Sepakbola dan Perempuan – Catatan Sehabis Diskusi

Sepakbola dan Perempuan – @obrolanombandung

Barangkali, saya adalah orang yang salah berada di forum ini. Ketika diminta menjadi pembicara, saya sudah menyatakan saya tak punya kapasitas apapun dalam membincang sepakbola dan perempuan. Saya memang mencintai sepakbola.

Sewaktu SD, olahraga permainan yang diajarkan guru Penjaskes adalah kasti. Saya pernah bertanya, kenapa bukan sepakbola? Tidak dijawab. Guru saya mungkin tidak merasa perlu menjawab pertanyaan bocah kelas empat SD yang selalu malas-malasan saat olahraga (tapi, dulu saya cekatan dalam berlari, nggak pernah kena timpuk).

Sewaktu SMP, ujian buat pelajaran penjaskes adalah volley. Saya yang enggak suka dan enggak bisa volley kembali nanya, kenapa bukan sepakbola. Lagi-lagi tidak dijawab jelas, selain bahwa itu olahraga laki-laki. Tapi di Amerika itu olahraga perempuan, balas saya, yang kebanyakan nonton serial dan film.

Sewaktu SMA, saya ikutan ekskul sepakbola, dan bertanya apa saya bisa ikut main. Jawabannya, tidak bisa, kecuali ada perempuan lain ikut dan bisa bikin tim sendiri. Tidak berhasil mengumpulkan tim, akhirnya saya jadi manajer ala-ala (yang artinya, ngurusin tim secara administratif kayak bikin catatan tiap latihan dan tanding, mintain izin bolos resmi dari sekolah, dan jadi tim hore) cuma demi bisa berada dekat dengan sepakbola.

Tentu saja saya tidak punya bakat main bola. Dan tidak bercita-cita menjadi atlet bola. Enggak menguasai segala hal tentang permainan ini, enggak hafal sejarah ini itu detail soal tim kesukaan, (meski kalo kalah, anying, mood aing jadi senggol-bacok. Hhhh). Tapi sepakbola selalu jadi bagian dari kegembiraan dalam hidup.

Tapi sebenernya, ada apa, sih, antara perempuan dan sepakbola? Secara keseluruhan, perempuan kurang terepresentasi dalam olahraga ini. Larangan penutup kepala yang baru saja diangkat beberapa tahun ini sama dengan eksklusi banyak perempuan muslim dari bermain pro. Atau perempuan Iran yang berpura-pura jadi lelaki demi menonton di stadion.

Saya tidak punya data soal gender pay gap di Indonesia, atau soal maternity leave di atlet perempuan, tapi kita tahu tak ada ruang menyusui di stadion. Padahal, selain suporter, kiranya banyak lagi perempuan yang terlibat dalam permainan sepakbola: panitia, official, bahkan atlet sepakbola.

Pada diskusi kemarin, saya diberi beberapa kata kunci dalam perbincangan yang intinya tentang suporter perempuan dan sepakbola. Ada juga pertanyaan mengenai industri yang eksploitatif. Di sini, saya merasa bahwa saya tak semestinya di ada di forum.

Saya tipikal suporter lonewolf yang tidak suka bergabung dengan komunitas suporter. Memang, datang ke stadion selalu dengan teman, tapi, ya, begitu, pergi ke stadion, nonton, pulang nongkrong sebentar, sudah. Intensitas pergi ke stadion juga cukup jarang, apalagi setelah bekerja di Jakarta.

Pembicara lain punya banyak hal yang menarik. Rina, misalnya, menelaah perilaku suporter di media sosial, bagaimana ekspresi dan konflik berkembang di media sosial, juga kehadiran #bobotohtimeline, mereka yang “menyimak” pertandingan via lini masa.

Upeh meneliti konflik antara The Jak vs Viking dan ikut turun lapangan menonton pertandingan, menyaksikan bagaimana konflik ini, yang sifatnya mirip dengan konflik agama di Poso belasan tahun lalu. Saya sendiri tertarik pada risetnya dan punya pertanyaan lanjutan mengenai karakteristik konflik antara suporter perempuan Persija dan Persib.

Jati sebagai Viking Girls punya pengalaman yang kaya di lapangan, ia turun di pertandingan home maupun away, dan saya sempat berharap ada kekayaan pandangan dari pengalamannya selama ini.

Ada beberapa pertanyaan yang sayang sekali macet di pemaparan. Pertanyaan mengenai pelecehan verbal di stadion, misalnya, yang saya alami tidak demikian parah. Saya menanggapi itu cuma dengan mengingatkan bahwa kami perempuan ke stadion buat menonton bola, bukan untuk ditonton, jadi sebaiknya laki-laki tidak usah usil, bagaimanapun penampilan kami. Pelecehan terjadi karena salah si peleceh, bukan korbannya.

Jati punya pendapat lain. Menurutnya, suasana stadion dibangun dengan hukum alam yang secara tidak langsung bersifat maskulin. Dia tidak menyebut ini secara terang, namun dari anjurannya pada perempuan untuk lebih menjaga diri dan tahu diri, kembali pada diri perempuan saat berada di stadion, dengan mencontohkan bahwa dirinya tidak pernah mengalami pelecehan karena galak, dan berhasil diterima komunitas dengan menyesuaikan diri pada pola perilaku maskulin, menunjukkan bahwa stadion masihlah tempat yang tidak begitu an untuk ekspresi yang lebih feminin.

Saya kemudian teringat pada yang pertama kali saya kisahkan di awal percakapan mengenai suporter bola Iran yang menyamar dengan menggunakan wig dan kumis palsu, jika kondisinya seperti yang diutarakan Jati, apalah yang berbeda dari kondisi suporter perempuan di Indonesia dan Iran? Bukankah kemudian ekspresi yang berterima hanya yang maskulin dan perempuan mesti berperan dalam lingkup ekspresi yang sempit itu?

Beberapa hal yang saya bicarakan di awal, seperti masalah gender pay gap, maternity leave, larangan hijab yang baru diangkat, tidak adanya ruang menyusui, dan apakah stadion sudah ramah anak (dengan demikian ramah pula pada ibu yang ingin menonton bersama anaknya) tidak bisa dieksplorasi lebih jauh karena dalam forum, karena beberapa aktor penting absen: atlet sepakbola, panitia, maupun official perempuan tidak hadir.

Ini kiranya bisa dipertimbangkan untuk diskusi selanjutnya. Bisa juga mengundang satu pembicara perempuan di tiap tema yang berkaitan dengan sepakbola, karena sepakbola dan perempuan ternyata tidak bisa dimampatkan dalam satu diskusi mengenai suporter sepakbola saja, dan dengan jalan diskusi seperti kemarin, berbicara mengenai suporter pun tidak bisa utuh.

Yah, terakhir, terima kasih sama @obrolanombandung yang mengundang kami cuap-cuap, semoga ke depan bisa diskusi lebih jauh lagi ~

Advertisements

31

Pada masa kembang sepe berbunga di Kupang, di Bandung, saya menimbang-nimbang untuk menyerahkan diri pada rumah sakit jiwa. Saya terlalu tua untuk menjadi Susanna Kaysen atau Veronika Deklava, mungkin saya bisa menjadi Zelda Sayre.

Tidak ada yang menyetujui usul saya, padahal barangkali, jikapun kondisi mental saya tidak membaik, saya bisa membandingkan pengalaman saya dengan Erving Goffman. Toh, saya pernah riset mengenai penjara, dan dengan observasi partisipan sebagai pasien di Rumah Sakit Jiwa, saya akan punya pengalaman yang lebih dari cukup.

Yang mengurungkan niat saya adalah uang, tentu saja. Biaya rawat inap di Rumah Sakit Jiwa sepertinya mahal, dan saya juga tidak pernah menyukai obat-obatan. Lagipula, rasanya tidak adil ketika saya tidak sedemikian sakit dan mengambil jatah orang untuk perawatan.

Seorang kawan baik memberi saya kontak psikiater, dan saya masih menunda untuk bikin janji temu.

Di kepala saya, muncul suara-suara. Orang akan menyalahkan saya karena kurang bersyukur. Orang tidak akan paham bahwa pagi adalah terbitnya kecemasan dan teror, sekaligus waktu tepat untuk tidur.

Ada banyak orang yang mengalami sakit seperti saya, tapi alasan mereka lebih bisa dipahami sepertinya. Akan ada perlombaan siapa yang paling menderita, meskipun konselor saya di Kupang berkata sudah untung saya masih bernafas.

Benarkah bernafas adalah keuntungan?

Sesungguhnya, untuk apalah saya masih menginjak bumi, mengambil oksigen, mengeluarkan karbondioksida–hey, katanya jumlah karbon sudah terlalu banyak sampai-sampai menanam pohon tidak akan menolong bumi ini lagi. (Mungkin ini akal-akalan dari orang yang menginginkan setiap ruang menjadi beton dan aspal sambil berkata, sudah, toh, hutan sudah tidak berguna cetak saja jadi sawah jadi sawit, jadi bandara, kita semua sesak nafas dan kelaparan bersama) (kecuali beberapa persen orang kaya yang punya persediaan pangan dan punya akses pada teknologi)

Hidup saya tidak buruk-buruk amat seharusnya. “Masih untung tidak punya penyakit mematikan, tampang tidak terlalu buruk, orangtuanya lengkap, teman-teman banyak, otak yang konon masih logis, dan sebagainya, dan sebagainya.”

“Jangan galau terus di media sosial. Kamu bikin citramu buruk. Kamu caper. Kamu nyebarin penyakit.”

Jika boleh memilih, saya ingin berhenti bersuara, berhenti bangun tidur untuk kemudian tidak berguna bagi siapa-siapa.

Saya ingin memutar waktu dan kembali pada usia belasan: riang seperti anak kijang, tidak mudah murung dan meriang–sebagaimana remaja yang dikenali teman-teman sekolah menengah.

Perempuan yang mereka tahu mudah ketawa dan mengeluarkan serapah, ringan berlari dari tim bola ke tim basket ke mesjid ke perpustakaan ke lab bahasa ke ruang OSIS menyelinap di latihan teater lalu pergi ke kantin.

Dia pernah dimusuhi sekelas karena dianggap pongah dan mengkritik penampilan drama kelompok-kelompok lain di pelajaran Bahasa Indonesia, disuruh membuat prakarya karena nilai matematikanya tidak tertolong, jatuh cinta pada adik kelasnya dan setiap jeda memandangi punggung adik kelasnya dari lantai dua ketika bocah itu pulang.

Saya telah menaruh sebagian kesedihan dari masa kecil, menundanya, meledakkan sebagian di usia awal dua puluhan, kini mereka menarik-narik pundak dan ujung bulu mata.

Apakah saya pernah bahagia? Pernah. Mungkin. Mungkin saya pernah merasa senang. Tapi tidak bahagia. Baiklah. Saya pernah bahagia. Bahagia hingga ingin membekukan waktu dan menjalani momen itu selamanya. Kenangan akan masa-masa itu seperti memandang bintang di kejauhan, cahayanya sampai, tapi sumber cahaya itu telah menjadi lubang yang menelan apa saja.

Apa saja. Termasuk perasaan berhak untuk bahagia.

Potongan-potongan Surat yang Tak Akan Selesai

Telah kulahirkan anak-anak setan dan pada gusarmu mereka bergentayangan.

Aku terbangun dengan kepala pengar dan mencoba mengingat kapan terakhir kali menuang alkohol pada gelas. Ingatanku masih baik, dan perasaan memar ini bukan akibat upaya-upaya semacam itu. Ruang masih sama seperti beberapa bulan ini. Suara sahabatmu melayang mengabarkan keberangkatan.

Hari yang lain lagi. Senin, Selasa? Atau Jumat? Hanya pada Sabtu harapanku bergantung, bertemu dengan orang asing, bahasa asing, dan puas mengatai diri gadis kurang berakal. Haruskah tirai kubuka dan matari merasuk? Lalu bagaimana dengan jendela? Udara kalengan membuat flu, bukan?

Kuraba keningku memastikan suhu tubuhku. Aku sehat, aku sehat, aku sehat. Tiga kali seperti mantra. Lalu aku mengingat tulisan terakhirku.

Kawanku bilang tulisanku buruk sekali, dan aku sepakat, tapi kumaafkan diriku dengan berdalih bahwa aku sedang patah hati. Dan salahnya juga meninggalkanku, tidak menulis lagi.

Akhir-akhir ini, aku merindukannya dan gua tempat kami tertidur, sayangnya tidak sampai ratusan tahun dan kami tak punya anjing. Bagaimana jika yang tertidur adalah sepasang perempuan dan laki-laki, berbantal sepi masing-masing, dan menolak bangun saat pagi menyingsing?

Tapi kau akan bangun, pukul setengah enam, demi melihat gadis belia tetangga kita berangkat sekolah. Punggungnya menjauh, kantukmu datang. Dan dengan keengganan yang tak pernah bisa kusembunyikan, aku bangun, berangkat kuliah.

Kususuri kuburan dalam kenangku, kenapa tak kau cabut kamboja dalam taman bunga mimpiku? Aku memelukmu lebih erat malam itu, larut dalam takut, akankah Nenek Carrion menemukan kita, dan tengkorak kita dijahit pada gaunnya?

Jangan takut, setangkup peluk akan mampu merapikan kecemasan paling liar sekalipun. Bagaimana dengan kecupan? Kecupan akan jadi ambang petaka, dan kita sudah berjanji padanya untuk menjauh dari bibit buah terkutuk.

Hari apa yang berat, kau sebut saja tujuh nama dalam satu minggu, lima jika kau memilih almanak lokal, dan kukira, lelucon dan bahakmu akan menyapunya. Bagaimana jika kita menonton film saja, dari komik yang kau suka. Kau tidak akan mau mendengar protesku, bagimu, tak ada yang sakral selain manusia yang berkostum kelelawar.

Ah, kalian berdua. Apa yang bisa kukabarkan, selain dua kekalahan paling besar?

Harusnya aku tahu aku akan kehilangan semuanya saat tasku hilang. Kau tentu ingat, aku pernah kehilangan dompet dan berulangkali ia kembali. Keberuntungan pemula paling banyak hanya tiga kali, selebihnya nasib baik tak pernah begitu menyukai penjudi.

Sewaktu kecil, kupandangi bintang dan berkata pada orangtuaku aku akan terbang dan pergi ke sana. Ke bulan juga tak apa, tapi puluhan tahun lalu ia istimewa, mungkin jika sudah besar bulan hanyalah terminal dadakan, tempat istirah sebelum lebih mengangkasa kita jelajah.

Gadis lima tahun itu pasti kecewa karena dua puluh lima tahun kemudian, masih banyak orang percaya bumi hanyalah piringan datar dengan lekuk tertentu pada gunung dan palung. Tapi ia sudah bisa menerima bahwa bintang hanya angan jauh. Cahaya itu mungkin dari benda angkasa yang telah lama mati, pesan yang terlambat sampai.

Terlambatkah semua teguranmu padaku?

Aku selalu mencintai kisah dan manusia. Pada tempat asing kupasrahkan nasibku, aku ingin belajar, senantiasa. Bahkan jika kau kehilangan? Iya. Segalanya? Iya.

Apa lagi yang kupunya? Lemak saja tak. Kemurungan dan kemarahan masa muda telah mengambil apa-apa. Hidup hanya mengasihaniku dengan teman-teman baik dan murah lelucon. Dan dia.

Katakan padaku, bagaimana kau bisa bertahan, ketika segala yang kau impikan gagal kau wujudkan? Kau ternyata tak sepandai itu. Kemampuanmu bertahan di tempat asing mendekati nihil. Kau mengambil serangkai keputusan yang salah, dan kau tak pernah belajar.

Betul mereka yang meragukanmu. Sah mereka menyebutmu pecundang. Ingat saat kau pulang? Kau pulang dengan terpaksa, mengemis pada orangtuamu, belum menyelesaikan tulisanmu, dan mereka tak mengharapkan kehadiranmu. Kau bukan lagi dibuang. Orang tak ingat kau ada.

Kukira, padanya aku bisa menitipkan keping-kepingku yang remuk. Selalu. Dia yang menggendongmu saat kau tersedu menceritakan masa kecil yang telah kau hapus, orang pertama yang kau bagi kisah apa-apa. Di tempat asing, kau merindukannya dan meyakini tempatnya tak tergantikan siapapun. Siapapun. Bahkan mungkin apapun.

Kemudian kau tahu, kesalahan yang kau lakukan tidak akan bisa mendapat ampunan. Lelaki itu meninggalkanmu dengan luka terbuka, pergi ke puncak gunung memanggul batu kekecewaannya sendiri.

Katakan padaku, apa yang tersisa dariku?

Aku mau merebut hidupku kembali.

Dia berkata pada pisah yang sudah dia pilih, bahwa kini aku bebas. Aku bisa melakukan apa yang aku suka dan apa yang aku mau. Dalam segala ketakutan akan kesepian dan kehilangan, aku menyangkal. Aku mengingat kebersamaan kami, dan merasa aku cukup merdeka. Lelaki itu selalu menyokongku dalam berbagai pilihan yang aku ambil, yang barangkali mengorbankan kepentingannya.

Kami berjumpa di akhir usia belasan. Rasa cinta itu seperti instan, aku masih ingat segala yang berkaitan dengan pertemuan kami yang kukira baru pertama (ternyata ingatanku buruk, dia bilang kami sering bersua sejak lama, sejak kami masih masa orientasi mahasiswa). Aku baru saja keluar dari hubungan yang kurang menyehatkan, begini, aku punya pacar, lalu aku berselingkuh dengan temannya, hanya karena aku senang berbalas surat.

Mantan pacarku tidak tahu soal itu, dan si selingkuhan mencampakkanku setelah bisa memacari perempuan yang sudah lama ia taksir. Well, aku tidak sepenuhnya dicampakkan. Aku sendiri tidak mau berurusan lagi dengannya setelah dia punya pacar, kau tahu kompas moralku memang tidak biasa, aku bisa berdalih soal perselingkuhanku tapi aku pantang ikut campur dalam hubungan orang lain. Sebagaimana bisa diduga, lelaki ini memang senang mengejar hal tidak patut dan tidak mau berhenti mencari peruntungan denganku. Setelah lelah, dia mencari perkara. Suatu hari, saat kami sedang latihan untuk performance art sebelum demo, dia menunjukku dan menyebutku pelacur. Sahabatku berang dan memarahinya karena tahu relasi kami, dan sahabatku ini mantan pacarnya juga, sebentar kenapa ini rasanya jadi pelik, tapi kau tahulah, sejak masa muda, aku punya hobi kurang baik berupa menceburkan diri dalam hubungan-hubungan tidak masuk di akal sehat.

Aku putus dengan pacarku akhir Agustus. Sekira September aku tidak mau lagi berurusan dengan selingkuhanku. Lalu aku menemukannya. November, catatan harianku sudah menceritakan anak canggung yang manis itu. Anak yang berasal dari keluarga salih tapi tertarik pada Marx.

Setelah kami dekat dan jalan bersama, dia baru tahu bahwa mantan pacarku masih satu lingkaran pertemanan, dan mengajukan pengunduran diri, bertanya padaku apa aku sedang berlari. Aku masih punya sisa rasa sayang pada mantan pacarku, sebagian besar terdorong karena merasa bersalah membohonginya, sebagian lain karena bagaimanapun, kami dulu berteman. Lari tidak ada dalam kamus di kepalaku.

Aku ingin berkata padanya, bahwa yang kurasakan saat pertemuan kami adalah, “Jika aku melewatkanmu, aku akan nelangsa. Jika aku bersamamu, mungkin suatu hari akan ada yang rusak di pikiranku, tapi semua layak aku coba.” Selintas, pernah terpikir kata jodoh, tapi bagaimana mungkin dua bocah akhir belasan menemukan jodohnya?

Sepuluh tahun bersama, rasanya dia bukan hanya kekasihmu. Dia menjelma apa-apa, kekasih yang manis, sahabat baik, lawan debat yang dapat diandalkan, dan terkadang, pacar yang memusingkan. Kami tumbuh bersama, saling mendukung cita-cita satu sama lain, dan berharap kebersamaan itu selamanya. Kami mungkin jarang membicarakan pernikahan, tapi semua karena kami pernah yakin, bahwa maut yang bisa memisahkan kami.

Kami berpisah dengan cara yang berantakan. Terkadang kami bicara baik-baik, lebih sering dia menghindar dan memintaku untuk tidak lagi membicarakan apa-apa. Oiya, aku yang salah. Aku melanggar komitmen. Dan meskipun dalam pertengkaran kami aku mengabsen dosa-dosanya, kami berdua tahu bahwa itu tidak punya ikatan sebab-akibat yang pasti.

Aku masih mencintainya hingga kini. Entah dengan perasaannya. Setelah kami berpisah, aku tahu dia masih mencintaiku, tapi cinta itu pula yang melukainya. Aku memohon padanya agar kami bersama, dan memperbaiki semuanya. Dalam hubungan kami, kami pernah beberapa kali hendak menyerah namun selalu kembali bersama. Dan begitulah awalnya kuharap.

Kini, aku mulai mendengar kata-kata klise, kadang mencintai seseorang berarti melepaskannya. Dalam hubungan kami, artinya membiarkan masing-masing dari kami belajar hidup sendiri, menata semuanya dari awal. Reset.

Kadang kupikir, betul kata dia, kami terlalu tua untuk merasa patah hati. Lima belas tahun lalu, aku bisa naksir satu orang dan seminggu kemudian hilang selera, menyukai lelaki lain.

Saat usiamu tiga puluh dan hubunganmu berlangsung lebih dari satu dasawarsa, ini seperti keluar dari kehidupan bersama. Kami mungkin tidak pergi ke pengadilan untuk mengatur perpisahan, anak, dan harta bersama, tapi kami punya lingkaran pertemanan yang sama, yang selama ini menganggap hubungan kami bak kisah komedi romantis.

Lalu bagaimana dengan foto keluarga yang di dalamnya ada dia? Setiap sudut rumah yang membawa kenangan kecil tentangnya, kau ke dapur dan ingat dia suka membikinkan mie instan dengan segala sayur dan bahan ajaib dicampurkan, di kursi itu biasanya dia tidur kalau menginap, lalu kamar tambahan itu, di kamarmu dia pernah anteng main komputer dan laptop, bahkan kucingmu mengenalinya sejak kecil.

Kadang kenangan memberatimu dan kau mulai merasa kehilangan segalanya. Kau ingat dia menemanimu dalam semua peristiwa penting sepanjang usia dua puluhan. Musik, film, buku yang kalian nikmati dan perdebatkan. Dunia adalah dia dan kepingan kecil-kecil kebersamaan kalian. Dunia itu sudah hilang.

Kau merasa masuk ke sumur tanpa dasar dan emosimu sulit dikendalikan. Kau tiba-tiba menangis di tempat umum, dan jika sudah rindu, rasanya cuma ngilu di sela dadamu.

Kau kesepian dan takut ditinggalkan. Sahabat-sahabat baikmu tertawa bersamamu menghadapi hati yang dingin. Dan mereka mendorongmu lagi. Sedikit-sedikit. Kau limbung dan mabuk kesepian. Mereka memapahmu dan memberitahumu kalau kesepian itu fana, dan mereka tidak akan meninggalkanmu mati membusuk sendirian, tidak jika kau sendiri berusaha merebut kembali semua kendali.

Kini, kau menyetel ulang hidupmu. Merengkuh apa yang tak pernah: bertarung sendirian. Teman-temanmu mempercayai ketangguhanmu, sambil sesekali menyeka air mata dan menertawakan sedu sedanmu. Kau sudah terlalu tua untuk menyangkal hidup. Untuk marah-marah pada dunia seperti remaja. Kau sudah terlalu tua untuk berharap selalu dimaklumi.

Sudah agak terlambat, mengingat semua yang lewat, tapi aku mau merebut hidupku kembali.

Gemuruh

Ia menyaksikan gelombang datang dan mendengar gemuruh di kepalanya. Kau akan baik-baik saja, perempuan itu berkata pada dirinya sendiri, tapi kemudian perasaan yang pernah hilang itu menyapunya. 

Kau tahu berapa berat dari kekosongan? Hampa dalam dada yang terus menerus memanggilmu. Betapa beruntung orang yang sudah selesai dengan diri dan mampu membaktikan diri demi kebaikan banyak orang dan kau bermimpi suatu saat dapat mencapai itu. Kau pergi jauh dari rumah untuk mati-matian berupaya berguna untuk orang-orang sampai kau sadar tempatmu barangkali bukan di sini. 

Lalu, kau terperangkap dalam kesedihan yang itu-itu lagi. 

Beberapa Potong tentang Cuaca

Di kotaku, hujan menjadi mala. Ia menggenang di halaman, di jalan, merasuki rumah dan gedung, juga mata-mata yang nelangsa. 

Ada perintah untuk berdoa, tapi tuluskah doa yang terlembaga dan didahului seruan? Kau tahu, agamaku lahir di gurun dan tak kenal doa anti-hujan. 

Dulu, amaf berdoa di Faut Ulan, Ibu. Mereka pinta hujan, pinta cerah matari. Uis Neno akan kabulkan: bunga jagung mekar, dan kami akan terhindar dari lapar.

Kini kami sembahyang dan berdoa, di rumah Tuhan dan di kebun, tapi ada cela, entah apa. Barangkali sengketa di antara saudara, atau keyakinan kami yang terbelah, Tuhan geming, tanah kering. Selatan dan utara kini tiada beda: tak ada hujan dari langit kami. Jagung layu tak apa asal ada pisang dan ubi kayu. 

Kami tak menanam padi. Kami hanya menanam harapan cukup uang untuk beli beras bantuan, Ibu, kici ana tak suka jagung, tak suka juga putak laka. 

Hujan tak datang, Ibu. Tapi Oe Sustana mulai berhemat. Mengapa payudara ibu tersumbat setelah kemarau habis? 

Angin mengusir awan hujan, merontokkan sarang lebah, dan madu hanyalah manis yang kian pudar janjinya, Ibu, seperti Anggur Merah dari para pemimpin. 

Kami buta huruf, bodoh, dan tidak tamat sekolah. Tapi kami pernah bisa membaca cuaca. Kini, bintang tak bisa memastikan kapan kami harus memulai tanam lagi. 

Mbah Kakung dan 65

Saya dan Mbah Kakung tepat berjarak 60 tahun. Kami berbagi bulan lahir yang sama, April, dan hari yang sama, Jumat. Di mata saya, dia adalah kakek yang galak, lumayan seksis, keras kepala, merasa benar sendiri (bukan, ini bukan karena zodiaknya Aries, ini pasti gara-gara dia dulu tentara, pikir saya). Selera humornya lumayan, selera musiknya terlalu pilih-pilih (di rumah kami akan selalu mendengar kaset-iya, kaset-keroncong. Kata Mamah dia pernah membanting radio milik Uwa saya karena mutar radio Australia, dan dia benci sekali dangdut yang menurut dia cuma ngumbar ‘dajal,’ dada dan bujal). Tapi berkat kedisiplinannya, dia juga seorang pengarsip yang baik (waktu saya bilang mau kerja di NTT, dia cerita dulu pernah ditugaskan di Kupang hingga Atambua, tapi hanya tiga bulan. Di sana, katanya, ada gadis Timor yang dekat dengannya, tapi dia bilang dia sudah mau menikahi Mbah Putri, jadi mereka berpisah. Sesampainya di Jawa, gadis itu mengiriminya surat dan ia menyimpannya. Ini patut dicari. Heuheu).

Mbah Kakung bawahan Soeharto. Saat mengobrol, saya merekamnya tapi rumah kami di pinggir jalan raya dan hari itu jalan bising bukan kepalang, jadi kualitas rekamannya buruk, detail semacam sejak kapan jadi bawahan Soeharto, di mana dll jadi kabur. Yang jelas, dia sangat terkesan dengan Soeharto (kakak Mbah Putri malah katanya ajudan Soeharto). Jadi, ketika bicara soal Soeharto, jelas Mbah Kakung membelanya. Termasuk 65.

Saya, dengan jantung deg-degan dan perasaan yang agak getir, bertanya mengenai apa yang dia lakukan pada saat 65. Dia tidak membunuh orang secara langsung. Tapi dia bercerita, bahwa salah satu tetangganya adalah orang PKI, dan ia melaporkan orang itu ke Kodim. Siapa orang itu? Pokoknya dia PKI. Bagaimana tahu dia PKI? Karena dia sering bicara pake kata-kata yang dipakai PKI saat mengumpulkan orang di rumahnya. Orang PKI ini pandai menyamar, waktu bangun mesjid dia juga yang paling rajin turun, kata Mbah. Mbah, gimana kalau dia memang ingin memakmurkan mesjid juga? Mbah Kakung sempat terdiam. Terus gimana nasibnya? Dia ditangkap, kata Mbah, ditahan, entah dimana. Dia tidak mendapat pengadilan karena pada saat itu, tentara yang megang komando. Demi keamanan. Kalau tentara yang pegang keamanan, pasti aman, karena punya pengalaman berjuang, katanya. Tapi tentara sekarang tidak tahu apa-apa, mungkin pegang senjata juga tidak mampu, begitu imbuhnya.

Eh, Mbah, katanya itu jenderal nggak disiksa, lho. Mbah Kakung merengut. Banyak yang mau belokkan kebenaran, katanya. Saya lalu bilang, enggak itu kata dokter yang periksa mayatnya. Dia yang lihat tidak ada bekas luka lain. Mbah Kakung terdiam. Katanya itu disiarkan kalau jenderal disiksa. Saya tetap ngotot (sehalus-halusnya tapi) kalau dokter bilang jenderal tidak disiksa.

Mbah, emang salah PKI apa, sampai harus habis semuanya? Kali ini jawabannya agak mengangetkan, katanya karena semua partai bangsat. Dia lalu menceritakan kiprahnya dalam membangun Golkar di kota kecil mukimnya ini, dan kemudian kecewa karena orang Golkar kemudian jadi bangsat juga. Padahal, waktu itu Golkar dibangun untuk menyatukan semua golongan. Well, dia juga cerita bahwa dia pernah ketemu Soeharto dan diminta untuk memastikan “beringin menaungi semua orang.” Pada masa itu, setiap Pemilu dia bisa tahu siapa saja yang tidak memilih Golkar di daerahnya.

Pernah ketemu Soeharto lagi? Kata saya. Dia menggeleng, sedikit menerawang dan berkata bahwa banyak orang salah tentang dia, dan dia adalah pahlawan juga. Bagaimanapun, dia turut memperjuangkan kemerdekaan.

Tapi kan dia korupsi, Mbah, kata saya. Dia menyangkal. Soeharto curi uang untuk pembangunan, katanya. Tapi kenapa anak-anaknya kaya banget, Mbah? Ya, karena mereka usaha. Usaha apa? Mbah Kakung tidak jawab. Saya menebak-nebak apakah dia ingat banyak kebun cengkeh yang dibakar pemiliknya sendiri di tahun 90-an itu ulah siapa. Tapi dia diam. Dan menoleh pada saya, kau punya banyak pertanyaan yang pintar, yang sulit dijawab.

Usianya 89, dan ada banyak hal pahit yang pernah ia alami. (Suatu ketika, saya tanya itu kaki luka kenapa? Dia bilang waktu itu habis makan siang, ia mengintai ke atas sebentar tahu-tahu dapat kiriman, semua anak buahnya tewas dan hanya dia yang tersisa. Mamah bilang Mbah tidak pernah mau cerita tentang itu sebelumnya). Saat jadi bagian dari “pagar betis,” ia kerapkali hampir mati juga. Ia pernah ditangkap karena dianggap radikal (ia senang khutbah. Quran terjemahan Jawa dan Sunda adalah bukti dia niat banget. Mamah bilang harusnya dengan itu dia sadar Orde Baru itu rongsokan, tapi Mbah tetap membelanya).

Terakhir, sebelum sarapan, ia bertanya pada saya, kapan saya akan lulus. Saya tersenyum dan berkata, sudah dua tahun yang lalu. Ia terkejut, dan saya menghiburnya bahwa saya memang terlalu lama kuliah, wajar dia lupa saya sudah wisuda.

Ada 60 tahun terbentang di antara kami, dan kini ia mulai pikun. Saya mungkin akan menyerah urusan sejarah ini, dan menerima kalau dia akan tetap menganggap Soeharto pimpinan yang harus dihormati, bagaimanapun dia hanya seorang kakek. Tapi negara tidak boleh pikun, negara tidak boleh dimaklum. 

Catatan Lapang Vol. III

Pagi datang padamu dari laut. Kau belajar merangkak menyusuri lembah, batu-batu dan bisikan leluhur. Lalu di jalan, kau melupakan senja di belakang gunung. Kelak, kau merawat kayu-kayu asing, sementara pohon yang pernah kau cintai harumnya punah di ladang jagung. 

Kini, kau kembali, membawaku serta. Kau menoleh dan mengingatkan, kita di hutan terlarang, jangan batuk, jangan jatuh, nanti kita mati. Kau berharap hutan akan sudi mendengar tuturmu dan hujan akan turun untuk menyiram benih sayurmu. 

Tapi mahluk itu tak mau muncul, kita tak tahu namanya sebenarnya. Kau tak benar-benar mendengarkan orangtuamu. Kau kira mereka terlalu banyak minum sedang pikiranmu sibuk dengan berbagai doa dan dosa. Sementara aku hanya perempuan asing yang tak memiliki marga. 

Apa yang ingin kau dengar akan aku kisahkan, katamu. Kau tahu telingaku hanya menangkap nyanyi, yang kau terjemahkan padaku sesuka hati. Kampung hanyalah latar yang bisa kita saring warna dan cahayanya untuk dipamerkan pada dunia, orang-orang didandani, mantra-mantra bisa diulang dalam rekaman. 

Sejarah, apakah itu? Hanya ingatan yang longsor di antara lenguh sapi. Atau benang-benang yang terulur dari nekan hingga atis: kau menunjuk dan aku akan menenun dengan bilangan alpa di sisi kanan dan kiri. 
Popnae, September 2016

Unfinished

​Kau tahu kau jatuh cinta pada perempuan itu setelah kau mendapatinya menggumamkan sebaris puisi dalam gigil, dan segera kau tahu, petaka sudah datang. 
Tidak, kau tidak dibesarkan dalam dongeng yang berkata bahwa perempuan menyimpan benih iblis di dalam dada mereka, kau tumbuh dengan kisah yang lain, iblis adalah mereka yang menuntunmu menuju pengetahuan yang mungkin tidak kau perlukan, lalu kau lena dan menggadaikan rumahmu, tamanmu, dan kekasihmu.
Kau berpaling dari pohon yang katanya bisa membuatmu memiliki segalanya. Mengapa ada orang yang ingin memiliki segalanya, tubuh kita tak pernah dirancang untuk itu, pikirmu. Kau puas dengan apa yang mencukupi hidupmu dan kau bahagia. Atau begitulah pikirmu. 
Sampai perempuan itu datang. Tak ada lonceng, tak ada aba-aba. Kau mulai merasa hidupmu tak cukup. Kau masih tak menginginkan pohon itu. Kau menginginkannya. Kau menginginkan segala tentangnya. Segala yang ada pada dirinya. Sedangkan perempuan itu hanya ingin mendengarkan angin.  
Sejak itu kau tahu, kau bisa lebih bahagia, tapi ditakdirkan untuk mati sia-sia setelahnya. 

Mbah Putri

Di antara anak-anak Mamah, saya adalah satu-satunya yang tidak diasuh lama oleh Mbah Putri. Teteh yang bisa dibilang anak Mbah Putri. Pernah,  sih, saya dititip sebulan di Ciamis selama Mamah pra-jabatan. Tapi, ya, nggak bertahun-tahun seperti dua kakak saya.

Rumah simbah di Ciamis sebenarnya luas, tapi kami hanya punya empat kamar. Satu kamar untuk Ua, satu untuk simbah, satu kamar Bule Iis, satu untuk Bule Entin. Makanya, tiap lebaran seperti juga orang lain kami akan tidur bertumpukan. Dan entah sejak kapan, mbah putri sering menawarkan untuk tidur dengannya dan saya mengiyakan.

Mbah putri sering bercerita tentang masa mudanya juga kegelisahannya. Kadang ia bicara sampai tengah malam. Karena saya punya ketahanan untuk mendengar cerita, maka saya menjadi penyimak kisahnya. Misalnya, ia bercerita mengenai kesehariannya ketika di Surabaya, sambil menunggu kapal berangkat karena Mbah Kakung ditugaskan di Makassar. Simbah Kakung akan mengajaknya jalan sore, dan tiap ditinggal, ia akan menyulam karena ia tidak mau diganggu orang. Dia malas bicara dengan orang. Atau ketika dulu ia menunggu Eyang Hari, adik bungsunya pulang sekolah.

Ada banyak cerita lain yang ia kisahkan dengan pahit. Sehingga saya tahu pasti, dalam hidupnya ia sering tidak bahagia. Tapi toh ia tetap mencintai kami. Sewaktu fisiknya masih memungkinkan, ia sering pergi ke Bandung untuk menengok cucu. Beberapa kisahnya yang bahagia antara lain ketika dia mengurus kami cucu-cucunya. Ia akan cerita tingkah kami waktu kecil yang lucu-lucu. Ia juga terhibur atas keberadaan cicitnya, Amartya, dan kerap ingin menggendong. Kadang ia pikir Amar itu Teteh atau saya, dan ia masih puluhan tahun lebih muda.

Pada satu titik, saya mulai khawatir akan kebiasaan bercerita di kasur ini karena berarti simbah akan kurang tidur. Tidur jam berapapun dia akan bangun subuh, sedang saya bisa tidur sampai pagi. Saya juga mulai menyadari kesehatan Mbah Putri semakin menurun dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi tidur dengannya.

***

Sekira sepuluh atau lima belas tahun lalu, anak-anaknya baru sadar Mbah Putri punya gangguan penglihatan. Gangguan itu sedemikian parahnya hingga rabun jauh maupun rabun dekatnya berjumlah belasan. Mbah Putri mulai tak bisa melakukan hal-hal yang ia gemari seperti menyulam, menjahit, atau bahkan memasak karena penglihatan terbatas. Kesehatannya menurun, pun ingatannya.

Pelahan, ingatannya memudar. Mundur jauh ke belakang, hingga masa-masa hidup di Rowulu. Terkadang ia akan berkemas dan bilang mau pulang jaga orang tua. Padahal jangankan orang tua, saudara kandung dan semua iparnya saja sudah meninggal.

Ingatan yang memburuk itu kadang disertai dengan gangguan emosi. Seringkali ia menuduh siapapun menyembunyikan barangnya. Saya, misalnya, pernah dituduh menyembunyikan kacamata. Padahal saat itu saya baru saja tiba dari Kuningan dan lima menit sebelumnya ia menyambut saya.

Sejak itu, saya sadar bahwa Mbah Putri harus sering saya tengok. Saya akan menyempatkan waktu untuk pergi ke Ciamis kapanpun sempat. Dan saya akan menemaninya duduk depan kolam atau teras muka lihat mobil lalu lalang.

Waktu itu memang akhirnya saya jadi cucu yang paling sering berkunjung dan oleh karena itu paling sering diabsen. Kalau tidak tanya, “Ade mana?” Dia akan mempertanyakan mana anak yang sering datang itu. Yang ironis, di antara anak-anaknya, simbah paling dulu lupa pada Mamah. Ia akan merujuk Mamah dengan “ibu itu,” mengiranya tamu. Lalu, ia lupa anak yang lain. Sampai hanya si sulung yang dia ingat.

Pada saya pun akhirnya dia lupa. Kadang dia kira saya temannya waktu kecil dan dia bertanya kenapa sudah lama saya tak main dengan dia. Kadang dia tertukar antara saya dan Teteh, atau saya dan Mamah.

Kadang-kadang dia bisa ingat kami, misalnya tadi, saat sungkem, saya sudah pasrah dia takkan ingat saya, tapi dia bilang, “Ini pasti anak yang jauh. Saya suka berdiri lihat ke jalan untuk lihat dia datang atau tidak, anak ini kan jauh tapi sering datang. Saya lihat jalan apa dia datang atau tidak, eh, sekarang benar, kan, dia datang.”

Kau takkan mengerti betapa harunya saya dia ingat saya. Ada semacam kelegaan, kebanggaan, dan kesedihan waktu itu. Saya sempat tak ingin beranjak dari sungkem. Tapi ada antrian di belakang dan saya harus gegas supaya sungkeman lancar.

Mamah pernah cerita mbah putri dulu suka menulis catatan harian, tapi kemudian catatan itu jadi catatan yang banyak bohongnya. Saya bilang, jangan-jangan mbah putri punya bakat mengarang dan itulah yang membuatnya bertahan.

Maksud saya, kami semua mengkhawatirkan dia karena dia skoliosis dan pikun, tapi itu semua memburuk saat ia tak lagi bisa mencatat dengan baik, sejak matanya rabun. Mungkin kalau rabunnya tidak seburuk itu dan dia bisa menulis, (juga menyulam dan menjahit) kesehatannya akan lebih baik.

Sekarang saja, sebenarnya ia lebih sehat dari Mbah Akung, yang dalam beberapa tahun terakhir juga pikun dan mudah letih. Bedanya, mbah putri masih mau menjalankan rutinitas dengan disiplin: makan dan mandi teratur. Mbah Akung sejak beberapa tahun terakhir mulai malas makan.

Lewat seputaran jarum panjang dari tengah malam dan kata-kata simbah putri kembali terngiang. Saya ingin sekali memeluknya terus. Saya ingin sering-sering datang dan mendengarnya bercerita, menemaninya duduk di kursi depan lihat jalan atau lihat kolam. Saya kembali bayangkan, jika dari dulu tahu dia suka menulis, saya ingin menulis bersamanya. Entahlah, kini saya merasa terlambat menyimak ceritanya, saat kenangannya kelabu dan berdebu.