Gemuruh

Ia menyaksikan gelombang datang dan mendengar gemuruh di kepalanya. Kau akan baik-baik saja, perempuan itu berkata pada dirinya sendiri, tapi kemudian perasaan yang pernah hilang itu menyapunya. 

Kau tahu berapa berat dari kekosongan? Hampa dalam dada yang terus menerus memanggilmu. Betapa beruntung orang yang sudah selesai dengan diri dan mampu membaktikan diri demi kebaikan banyak orang dan kau bermimpi suatu saat dapat mencapai itu. Kau pergi jauh dari rumah untuk mati-matian berupaya berguna untuk orang-orang sampai kau sadar tempatmu barangkali bukan di sini. 

Lalu, kau terperangkap dalam kesedihan yang itu-itu lagi. 

Advertisements

Beberapa Potong tentang Cuaca

Di kotaku, hujan menjadi mala. Ia menggenang di halaman, di jalan, merasuki rumah dan gedung, juga mata-mata yang nelangsa. 

Ada perintah untuk berdoa, tapi tuluskah doa yang terlembaga dan didahului seruan? Kau tahu, agamaku lahir di gurun dan tidak mengenal doa anti-hujan. 

Dulu, amaf berdoa di Faut Ulan, Ibu. Mereka meminta hujan, meminta cerah matari. Uis Neno akan kabulkan: bunga jagung mekar, dan kami akan terhindar dari kelaparan.

Kini kami sembahyang dan berdoa, di rumah Tuhan dan di kebun, tapi ada cela, entah apa, barangkali sengketa di antara saudara, atau keyakinan kami yang terbelah, Tuhan geming, tanah kering. Selatan dan utara kini tiada beda: tak ada hujan dari langit kami. Jagung layu tak apa asal ada pisang dan ubi kayu. 

Kami tak menanam padi. Kami hanya menanam harapan cukup uang untuk beli beras bantuan, Ibu, kici ana tak suka jagung, tak suka juga putak laka. 

Hujan tak datang, Ibu. Tapi Oe Sustana mulai berhemat. Mengapa payudara ibu tersumbat setelah kemarau habis? 

Angin mengusir awan hujan, merontokkan sarang lebah, dan madu hanyalah manis yang kian pudar janjinya, Ibu, seperti Anggur Merah dari para pemimpin. 

Kami buta huruf, bodoh, dan tidak tamat sekolah. Tapi kami pernah bisa membaca cuaca. Kini, bintang tak bisa memastikan kapan kami harus memulai tanam lagi. 

Mbah Kakung dan 65

Saya dan Mbah Kakung tepat berjarak 60 tahun. Kami berbagi bulan lahir yang sama, April, dan hari yang sama, Jumat. Di mata saya, dia adalah kakek yang galak, lumayan seksis, keras kepala, merasa benar sendiri (bukan, ini bukan karena zodiaknya Aries, ini pasti gara-gara dia dulu tentara, pikir saya). Selera humornya lumayan, selera musiknya terlalu pilih-pilih (di rumah kami akan selalu mendengar kaset-iya, kaset-keroncong. Kata Mamah dia pernah membanting radio milik Uwa saya karena mutar radio Australia, dan dia benci sekali dangdut yang menurut dia cuma ngumbar ‘dajal,’ dada dan bujal). Tapi berkat kedisiplinannya, dia juga seorang pengarsip yang baik (waktu saya bilang mau kerja di NTT, dia cerita dulu pernah ditugaskan di Kupang hingga Atambua, tapi hanya tiga bulan. Di sana, katanya, ada gadis Timor yang dekat dengannya, tapi dia bilang dia sudah mau menikahi Mbah Putri, jadi mereka berpisah. Sesampainya di Jawa, gadis itu mengiriminya surat dan ia menyimpannya. Ini patut dicari. Heuheu).

Mbah Kakung bawahan Soeharto. Saat mengobrol, saya merekamnya tapi rumah kami di pinggir jalan raya dan hari itu jalan bising bukan kepalang, jadi kualitas rekamannya buruk, detail semacam sejak kapan jadi bawahan Soeharto, di mana dll jadi kabur. Yang jelas, dia sangat terkesan dengan Soeharto (kakak Mbah Putri malah katanya ajudan Soeharto). Jadi, ketika bicara soal Soeharto, jelas Mbah Kakung membelanya. Termasuk 65.

Saya, dengan jantung deg-degan dan perasaan yang agak getir, bertanya mengenai apa yang dia lakukan pada saat 65. Dia tidak membunuh orang secara langsung. Tapi dia bercerita, bahwa salah satu tetangganya adalah orang PKI, dan ia melaporkan orang itu ke Kodim. Siapa orang itu? Pokoknya dia PKI. Bagaimana tahu dia PKI? Karena dia sering bicara pake kata-kata yang dipakai PKI saat mengumpulkan orang di rumahnya. Orang PKI ini pandai menyamar, waktu bangun mesjid dia juga yang paling rajin turun, kata Mbah. Mbah, gimana kalau dia memang ingin memakmurkan mesjid juga? Mbah Kakung sempat terdiam. Terus gimana nasibnya? Dia ditangkap, kata Mbah, ditahan, entah dimana. Dia tidak mendapat pengadilan karena pada saat itu, tentara yang megang komando. Demi keamanan. Kalau tentara yang pegang keamanan, pasti aman, karena punya pengalaman berjuang, katanya. Tapi tentara sekarang tidak tahu apa-apa, mungkin pegang senjata juga tidak mampu, begitu imbuhnya.

Eh, Mbah, katanya itu jenderal nggak disiksa, lho. Mbah Kakung merengut. Banyak yang mau belokkan kebenaran, katanya. Saya lalu bilang, enggak itu kata dokter yang periksa mayatnya. Dia yang lihat tidak ada bekas luka lain. Mbah Kakung terdiam. Katanya itu disiarkan kalau jenderal disiksa. Saya tetap ngotot (sehalus-halusnya tapi) kalau dokter bilang jenderal tidak disiksa.

Mbah, emang salah PKI apa, sampai harus habis semuanya? Kali ini jawabannya agak mengangetkan, katanya karena semua partai bangsat. Dia lalu menceritakan kiprahnya dalam membangun Golkar di kota kecil mukimnya ini, dan kemudian kecewa karena orang Golkar kemudian jadi bangsat juga. Padahal, waktu itu Golkar dibangun untuk menyatukan semua golongan. Well, dia juga cerita bahwa dia pernah ketemu Soeharto dan diminta untuk memastikan “beringin menaungi semua orang.” Pada masa itu, setiap Pemilu dia bisa tahu siapa saja yang tidak memilih Golkar di daerahnya.

Pernah ketemu Soeharto lagi? Kata saya. Dia menggeleng, sedikit menerawang dan berkata bahwa banyak orang salah tentang dia, dan dia adalah pahlawan juga. Bagaimanapun, dia turut memperjuangkan kemerdekaan.

Tapi kan dia korupsi, Mbah, kata saya. Dia menyangkal. Soeharto curi uang untuk pembangunan, katanya. Tapi kenapa anak-anaknya kaya banget, Mbah? Ya, karena mereka usaha. Usaha apa? Mbah Kakung tidak jawab. Saya menebak-nebak apakah dia ingat banyak kebun cengkeh yang dibakar pemiliknya sendiri di tahun 90-an itu ulah siapa. Tapi dia diam. Dan menoleh pada saya, kau punya banyak pertanyaan yang pintar, yang sulit dijawab.

Usianya 89, dan ada banyak hal pahit yang pernah ia alami. (Suatu ketika, saya tanya itu kaki luka kenapa? Dia bilang waktu itu habis makan siang, ia mengintai ke atas sebentar tahu-tahu dapat kiriman, semua anak buahnya tewas dan hanya dia yang tersisa. Mamah bilang Mbah tidak pernah mau cerita tentang itu sebelumnya). Saat jadi bagian dari “pagar betis,” ia kerapkali hampir mati juga. Ia pernah ditangkap karena dianggap radikal (ia senang khutbah. Quran terjemahan Jawa dan Sunda adalah bukti dia niat banget. Mamah bilang harusnya dengan itu dia sadar Orde Baru itu rongsokan, tapi Mbah tetap membelanya).

Terakhir, sebelum sarapan, ia bertanya pada saya, kapan saya akan lulus. Saya tersenyum dan berkata, sudah dua tahun yang lalu. Ia terkejut, dan saya menghiburnya bahwa saya memang terlalu lama kuliah, wajar dia lupa saya sudah wisuda.

Ada 60 tahun terbentang di antara kami, dan kini ia mulai pikun. Saya mungkin akan menyerah urusan sejarah ini, dan menerima kalau dia akan tetap menganggap Soeharto pimpinan yang harus dihormati, bagaimanapun dia hanya seorang kakek. Tapi negara tidak boleh pikun, negara tidak boleh dimaklum. 

Catatan dari Kampung

​Pagi datang padamu dari laut. Kau belajar merangkak menyusuri lembah, batu-batu dan bisikan leluhur. Lalu di jalan, kau melupakan senja di belakang gunung. Kelak, kau merawat kayu-kayu asing, sementara pohon yang pernah kau cintai harumnya punah di ladang jagung. 

Kini, kau kembali, membawaku serta. Kau menoleh dan mengingatkan, kita di hutan terlarang, jangan batuk, jangan jatuh, nanti kita mati. Kau berharap hutan akan sudi mendengar tuturmu dan hujan akan turun untuk menyiram benih sayurmu. 

Tapi mahluk itu tak mau muncul, kita tak tahu namanya sebenarnya. Kau tak benar-benar mendengarkan orangtuamu. Kau kira mereka terlalu banyak minum sedang pikiranmu sibuk dengan berbagai doa dan dosa. Sementara aku hanya perempuan asing yang tak memiliki marga. 

Apa yang ingin kau dengar akan aku kisahkan, katamu. Kau tahu telingaku hanya menangkap nyanyi, yang kau terjemahkan padaku sesuka hati. Kampung hanyalah latar yang bisa kita saring warna dan cahayanya untuk dipamerkan pada dunia, orang-orang didandani, mantra-mantra bisa diulang dalam rekaman. 

Sejarah, apakah itu? Hanya ingatan yang longsor di antara lenguh sapi. Atau benang-benang yang terulur dari nekan hingga atis: kau menunjuk dan aku akan menenun dengan bilangan alpa di sisi kanan dan kiri. 
Popnae, September 2016

Unfinished

​Kau tahu kau jatuh cinta pada perempuan itu setelah kau mendapatinya menggumamkan sebaris puisi dalam gigil, dan segera kau tahu, petaka sudah datang. 
Tidak, kau tidak dibesarkan dalam dongeng yang berkata bahwa perempuan menyimpan benih iblis di dalam dada mereka, kau tumbuh dengan kisah yang lain, iblis adalah mereka yang menuntunmu menuju pengetahuan yang mungkin tidak kau perlukan, lalu kau lena dan menggadaikan rumahmu, tamanmu, dan kekasihmu.
Kau berpaling dari pohon yang katanya bisa membuatmu memiliki segalanya. Mengapa ada orang yang ingin memiliki segalanya, tubuh kita tak pernah dirancang untuk itu, pikirmu. Kau puas dengan apa yang mencukupi hidupmu dan kau bahagia. Atau begitulah pikirmu. 
Sampai perempuan itu datang. Tak ada lonceng, tak ada aba-aba. Kau mulai merasa hidupmu tak cukup. Kau masih tak menginginkan pohon itu. Kau menginginkannya. Kau menginginkan segala tentangnya. Segala yang ada pada dirinya. Sedangkan perempuan itu hanya ingin mendengarkan angin.  
Sejak itu kau tahu, kau bisa lebih bahagia, tapi ditakdirkan untuk mati sia-sia setelahnya. 

Mbah Putri

Di antara anak-anak Mamah, saya adalah satu-satunya yang tidak diasuh lama oleh Mbah Putri. Teteh yang bisa dibilang anak Mbah Putri. Pernah,  sih, saya dititip sebulan di Ciamis selama Mamah pra-jabatan. Tapi, ya, nggak bertahun-tahun seperti dua kakak saya.

Rumah simbah di Ciamis sebenarnya luas, tapi kami hanya punya empat kamar. Satu kamar untuk Ua, satu untuk simbah, satu kamar Bule Iis, satu untuk Bule Entin. Makanya, tiap lebaran seperti juga orang lain kami akan tidur bertumpukan. Dan entah sejak kapan, mbah putri sering menawarkan untuk tidur dengannya dan saya mengiyakan.

Mbah putri sering bercerita tentang masa mudanya juga kegelisahannya. Kadang ia bicara sampai tengah malam. Karena saya punya ketahanan untuk mendengar cerita, maka saya menjadi penyimak kisahnya. Misalnya, ia bercerita mengenai kesehariannya ketika di Surabaya, sambil menunggu kapal berangkat karena Mbah Kakung ditugaskan di Makassar. Simbah Kakung akan mengajaknya jalan sore, dan tiap ditinggal, ia akan menyulam karena ia tidak mau diganggu orang. Dia malas bicara dengan orang. Atau ketika dulu ia menunggu Eyang Hari, adik bungsunya pulang sekolah.

Ada banyak cerita lain yang ia kisahkan dengan pahit. Sehingga saya tahu pasti, dalam hidupnya ia sering tidak bahagia. Tapi toh ia tetap mencintai kami. Sewaktu fisiknya masih memungkinkan, ia sering pergi ke Bandung untuk menengok cucu. Beberapa kisahnya yang bahagia antara lain ketika dia mengurus kami cucu-cucunya. Ia akan cerita tingkah kami waktu kecil yang lucu-lucu. Ia juga terhibur atas keberadaan cicitnya, Amartya, dan kerap ingin menggendong. Kadang ia pikir Amar itu Teteh atau saya, dan ia masih puluhan tahun lebih muda.

Pada satu titik, saya mulai khawatir akan kebiasaan bercerita di kasur ini karena berarti simbah akan kurang tidur. Tidur jam berapapun dia akan bangun subuh, sedang saya bisa tidur sampai pagi. Saya juga mulai menyadari kesehatan Mbah Putri semakin menurun dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi tidur dengannya.

***

Sekira sepuluh atau lima belas tahun lalu, anak-anaknya baru sadar Mbah Putri punya gangguan penglihatan. Gangguan itu sedemikian parahnya hingga rabun jauh maupun rabun dekatnya berjumlah belasan. Mbah Putri mulai tak bisa melakukan hal-hal yang ia gemari seperti menyulam, menjahit, atau bahkan memasak karena penglihatan terbatas. Kesehatannya menurun, pun ingatannya.

Pelahan, ingatannya memudar. Mundur jauh ke belakang, hingga masa-masa hidup di Rowulu. Terkadang ia akan berkemas dan bilang mau pulang jaga orang tua. Padahal jangankan orang tua, saudara kandung dan semua iparnya saja sudah meninggal.

Ingatan yang memburuk itu kadang disertai dengan gangguan emosi. Seringkali ia menuduh siapapun menyembunyikan barangnya. Saya, misalnya, pernah dituduh menyembunyikan kacamata. Padahal saat itu saya baru saja tiba dari Kuningan dan lima menit sebelumnya ia menyambut saya.

Sejak itu, saya sadar bahwa Mbah Putri harus sering saya tengok. Saya akan menyempatkan waktu untuk pergi ke Ciamis kapanpun sempat. Dan saya akan menemaninya duduk depan kolam atau teras muka lihat mobil lalu lalang.

Waktu itu memang akhirnya saya jadi cucu yang paling sering berkunjung dan oleh karena itu paling sering diabsen. Kalau tidak tanya, “Ade mana?” Dia akan mempertanyakan mana anak yang sering datang itu. Yang ironis, di antara anak-anaknya, simbah paling dulu lupa pada Mamah. Ia akan merujuk Mamah dengan “ibu itu,” mengiranya tamu. Lalu, ia lupa anak yang lain. Sampai hanya si sulung yang dia ingat.

Pada saya pun akhirnya dia lupa. Kadang dia kira saya temannya waktu kecil dan dia bertanya kenapa sudah lama saya tak main dengan dia. Kadang dia tertukar antara saya dan Teteh, atau saya dan Mamah.

Kadang-kadang dia bisa ingat kami, misalnya tadi, saat sungkem, saya sudah pasrah dia takkan ingat saya, tapi dia bilang, “Ini pasti anak yang jauh. Saya suka berdiri lihat ke jalan untuk lihat dia datang atau tidak, anak ini kan jauh tapi sering datang. Saya lihat jalan apa dia datang atau tidak, eh, sekarang benar, kan, dia datang.”

Kau takkan mengerti betapa harunya saya dia ingat saya. Ada semacam kelegaan, kebanggaan, dan kesedihan waktu itu. Saya sempat tak ingin beranjak dari sungkem. Tapi ada antrian di belakang dan saya harus gegas supaya sungkeman lancar.

Mamah pernah cerita mbah putri dulu suka menulis catatan harian, tapi kemudian catatan itu jadi catatan yang banyak bohongnya. Saya bilang, jangan-jangan mbah putri punya bakat mengarang dan itulah yang membuatnya bertahan.

Maksud saya, kami semua mengkhawatirkan dia karena dia skoliosis dan pikun, tapi itu semua memburuk saat ia tak lagi bisa mencatat dengan baik, sejak matanya rabun. Mungkin kalau rabunnya tidak seburuk itu dan dia bisa menulis, (juga menyulam dan menjahit) kesehatannya akan lebih baik.

Sekarang saja, sebenarnya ia lebih sehat dari Mbah Akung, yang dalam beberapa tahun terakhir juga pikun dan mudah letih. Bedanya, mbah putri masih mau menjalankan rutinitas dengan disiplin: makan dan mandi teratur. Mbah Akung sejak beberapa tahun terakhir mulai malas makan.

Lewat seputaran jarum panjang dari tengah malam dan kata-kata simbah putri kembali terngiang. Saya ingin sekali memeluknya terus. Saya ingin sering-sering datang dan mendengarnya bercerita, menemaninya duduk di kursi depan lihat jalan atau lihat kolam. Saya kembali bayangkan, jika dari dulu tahu dia suka menulis, saya ingin menulis bersamanya. Entahlah, kini saya merasa terlambat menyimak ceritanya, saat kenangannya kelabu dan berdebu.

Loner

“I don’t wannabe lonely, I just wannabe alone.”

Selama ini saya selalu menganggap bahwa saya bukan anak kota. Bahwa saya anak kampung. Semua runtuh saat saya ke kampung betulan.

Jika hidup di desa berarti kerja keras, pagi ambil air, banyak-banyak di dapur, bersosialisasi dengan sebanyak-banyaknya orang, saya yakin saya akan mampu. Tapi setelah nyaris sebulan di sini, ada satu hal yang membuat saya sadar bahwa bagaimanapun, saya ini produk kota: saya senang menyendiri.

Saya bahkan kerap lebih baik kerja sendiri. Beres-beres rumah, misalnya. Ada perjuangan tersendiri untuk menentukan kapan punya waktu sendiri, untuk membaca, menulis, atau hanya diam saja.

Saya sering bingung. Apakah harus selalu ikut bekerja tapi kapan belajar dan mencatat? Tentu saja kalau saya bukan orang yang canggungan ini akan lebih mudah. But I’m just too fucking awkward.

Against All Odds

“Mampukah kau hidup di kampung?”

Saya tahu, orang akan meragukan saya. Jangankan orang lain, saya sendiri selalu meragukan diri saya, dan tentu itu nampak jelas pada sikap saya yang kerap canggung dan kikuk, cara bicara saya yang ya, gitu, deh. Oh, dan kebiasaan ‘drama.’

Lalu mengapa saya ngotot ikut program ini? Saya mau belajar. Jangan dikira saya tak gentar harus jauh dari rumah tinggal di kampung orang. Saya selalu takut kalau saya merepotkan orang lain, dan life-skill saya di bawah standar. Saya tak bisa memasak, tak bisa naik motor. Di Bandung, keperluan ‘teknis’ sering dibantu pacar. Hal itu berlangsung bahkan sampai saat berkemas.

Ada banyak hal dalam diri saya yang tidak beres, dan mungkin karena itu orang percaya tidak percaya saya pergi jauh dari rumah. Si bungsu, anak manja itu tiba-tiba saja memutuskan pergi. Tapi saya ingin sekali belajar. Sempat terbersit dalam pikiran saya, sudah adilkah keputusan untuk pergi ke tempat orang belajar dari sana, apakah dengan begitu saya malah menjadikan ruang hidup orang sebagai tempat percobaan? Begitulah pikiran buruk berkembang biak sesuka hati.

Saya juga kurang tertarik dengan ide membuktikan diri pada orang lain. Jika orang menganggapmu tak mampu, ya biar saja. Orang memang hanya ingin melihat dan mendengar apa yang mereka mau. Saya kecil hati bukan karena omongan orang, kok.

Lalu kenapa? Mungkin karena selain saya bisa belajar, saya ingin tahu apakah saya bisa berguna bagi banyak orang. Saya percaya pada ungkapan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Tentu saja di kotapun saya mungkin bisa berguna. Tapi saya ingin juga berguna di tempat lain.

Sejujurnya, saya tak tahu apakah saya akan berhasil atau tidak. Tapi saya tak hendak mundur. Apapun yang terjadi, setidaknya saya akan belajar. Banyak sekali.

Rindu

Aku merindukanmu. Entahlah. Mungkin bukan kau, tapi yang kukenang darimu. Di malam jahanam ini, saat leherku dijerat tenggat, pikiran semrawut dan tubuh yang tak sehat, tiba-tiba aku menemukan puisimu. Aku mengutuk hujan dan kesepian yang membuatku merasakan yang tidak-tidak. Demi tuhan ini tak adil. Aku bahkan sudah merasakan penyesalan di pangkal lidahku. Tapi kau tahu tak ada yang bisa membendung perasaan ini. Kerinduan pada puisi, pada kebahagiaan kecil yang kau rasakan saat kau merdeka untuk menulis hal yang sia-sia belaka.

Ini bukan tentang cinta, tentu saja. Tak pernah ada cinta di antara kita. Kita sepakat untuk menjatuhkan cinta pada yang lain. Pada kata-kata. Aku pernah begitu gembira bersamamu, karena bersamamu berarti kita bisa menulis. Aku akan pergi ke fakultas, meminta kertas dengan dalih ujian dan kita, dengan teman-teman lain akan menulis. Kau selalu curang. Saat pembacaan, kau akan menyuruhku membacakan tulisanku terlebih dahulu. Kadang di saat frustrasi aku akan memakan kertas-kertas itu hingga tak bersisa. Mungkin karena itu lambungku buruk. Ia banyak memamah tulisan-tulisan busukku sendiri.

Kau hadir saat aku bahkan tak tahu apa yang akan kulakukan dengan hidupku. Aku merasa terikat tanpa kasmaran padamu. Tentu itu bukan satu-satunya hal yang ganjil di antara kita. Tapi aku ingat aku tak canggung memintamu memelukku saat kita tidur bersisian, diselimuti kesepian masing-masing. Yang kupikirkan saat itu bahwa aku bisa memercayaimu dan ingin tidur dengan tenang. Tak ada kepak kupu-kupu di jantungku. Tak pernah ada keinginan untuk memilikimu. Tak pernah ada cemburu, aku bahagia melihatmu menemukan cinta. Tapi di saat-saat tertentu, aku akan mengenangmu sebagai orang yang dapat kuandalkan untuk menumpas sepi yang bedebah dan cemas yang laknat.

Seperti malam ini. Seperti malam ini.

Btw, sebentar lagi kau akan jadi ayah. Semoga keponakanku tak mewarisi sifat keras kepalamu. Peluk hangat untuk kakak iparku.

Bitch Fight

Saya bukan orang yang suka berkompetisi. Apalagi dengan sesama perempuan. Terutama soal kecantikan. Kenapa? Pertama karena tahu diri tidak cantik. Kedua, guna kecantikan terbatas. Mungkin karena itu, secara alamiah saya tidak menyukai kontes kecantikan. Sebanyak apapun argumen pembelaannya, saya bisa kasih kembalian argumen penolakan kontes tersebut.

Insiden yang terjadi pada Miss Universe 2015 menjadi besar selain karena belum pernah terjadi kesalahan tolol semacam itu sebelumnya, juga karena reaksi orang-orang berikutnya. Pertama, beberapa kontestan menyatakan dukungan pada Ariadna dengan memojokkan Pia. Kedua, saat Ariadna posting foto-fotonya dengan tiara dan merasa enggan melupakan momen dirinya sebagai Miss Universe, serangan bertubi-tubi diterimanya.

Perez Hilton memburukkan Ariadna dengan menyebutnya Diva Bitch, arogan, dan kasar. Ia terus ngomong kalau Pia adalah juara sesungguhnya, bahwa Pia menjawab pertanyaan dengan lebih baik, seolah-olah mereka tidak pantas dibandingkan padahal Ariadna ada di posisi runner up 1, berarti dia hanya kalah beberapa poin dari Pia. Ada yang salah pada sistem penilaian dalam kontes tersebut apabila juara “sesungguhnya” dan juara pelapis digambarkan seolah langit dan bumi. Dan untuk menambah kejengkelan saya, komentar dia untuk Steve Harvey adalah bahwa Harvey didn’t do his job well.

Hah??? Seriously? Bagaimana bisa seorang juri menyebut salah satu gadis terpilih sebagai diva bitch sedangkan kepada orang yang merusak acara hanya didn’t do his job well?

Dunia ini memang tidak adil bagi perempuan. Dan entah kapan akan adil. Dimana-mana masih ada ketimpangan, entah itu soal upah maupun keterwakilan. Tengoklah perjuangan para perempuan pekerja di Hollywood yang dengan gemas berkata, dari dulu hanya banyak cakap tapi kesetaraan upah jauh dari maujud. Atau kuota 30% parlemen yang tidak juga sampai, dengan kualitas yang juga jauh dari angan-angan.

Mungkin karena sadar akan kelangkaan tersebut, atau merasa terancam akan kelangkaan, kompetisi di antara sesama perempuan menjadi lebih sengit, dan pada ujungnya, lebih tidak sehat. Ini bukan hanya terjadi di kontes kurang kerjaan macam Miss Universe.

Saya mulai menyadarinya saat melihat perdebatan feminis di Amrikiya yang rauwis-uwis. Waktu itu, kalau tidak salah, gara-gara twitwar yang kemudian berlanjut ke perang opini di media daring. Tentang apa? Tentang twitwar. Twitwar yang jadi pangkal perkaranya sendiri saya lupa. Tapi astaga, ributnya itu, lho. Kata-kata yang mereka pakai buat menjatuhkan pihak lain kasar sekali.

Padahal, intinya adalah rebutan panggung. Sebagian feminis merasa panggung yang ada lampunya terus menyorot pada feminis yang lain, maka mereka menggunakan medium lain seperti twitter. Eh, di twitter ternyata rebutan lampu sorot lagi.

Kamu tahu di mana posisi laki-laki dalam pertengkaran semacam itu? Sebagai mahajuri. Mereka ikut berpendapat untuk menilai siapa yang lebih layak disebut feminis, misalnya. Hal itu yang saya tangkap saat orang-orang meributkan tulisan Ayu Utami untuk Sitok. Lucu sekali melihat para lelaki ribut tentang seorang feminis dan mengutuknya sebagai bukan feminis sejati. Bukan feminis yang baik.

Dan inilah yang paling tidak saya sukai dari kompetisi dengan perempuan.
Lelaki, selalu saja punya pendapat tentang siapa perempuan yang paling hebat dan pendapatnya diterima sebagai kebenaran. Siapa yang paling cantik. Siapa yang paling menarik. Siapa yang paling pintar. Apapun kontesnya, pada akhirnya yang menentukan pemenangnya adalah laki-laki.

Para perempuan selalu dibandingkan satu sama lain, yang kemudian menciptakan jarak canggung berujung pada hubungan semacam frenemy. Maka dari itu, sebisa mungkin saya menghindari kompetisi dengan sesama perempuan. Kecuali lomba yang perhitungannya jelas, misalnya balap karung dan cerdas cermat.

Entahlah. Mungkin saya akan dianggap anti laki-laki gara tulisan ini. Silakan uji diri sendiri dengan melihat sekeliling.