hari buku sedunia. hari dimana saya tidak selesai membaca satu buku pun.

Hari ini hari buku sedunia, dan aku tak bisa menghitung berapa banyak buku yang kubaca tahun ini. Bukan karena terlalu banyak, tapi justru seingatku, jarang ada buku yang selesai kubaca. Pada malam hari, buku-buku itu gentayangan, jadi arwah penasaran yang mengganggu malam-malamku. Aku selalu berdalih, aku tidak membaca buku sampai selesai, tapi aku membaca yang lain: esai, artikel, puisi, cerpen, dan lain sebagainya.

Tapi tetap, harusnya kubaca bukuku. Mereka kerap menangis diam-diam saat kutinggalkan di tengah-tengah. Seperti percintaan yang kandas di tengah jalan, seperti cumbu yang diinterupsi, seperti berhenti makan pada saat kau belum juga merasa kenyang. Mereka merasa dicampakkan. Terkadang ada dari mereka yang berteriak dalam mimpiku:

โ€œKau harusnya membacaku, kini aku tidak lagi dibakar dan dibredel. Kau perempuan tidak tahu diuntung, dulu orang-orang mencariku, ingin membacaku, tapi mereka tidak bisa menemukanku, sekarang kau hanya tinggal mengambilku dari rak dan membacaku, berbincang denganku. Aku kesepian di rak bukumu. Aku lelah memunggungimu. Aku ingin terlelap di dadamu. Mendengarkan detak jantungmu saat kau tertidur, atau melamunkanku. Aku lelah hanya kau pajang di rakmu. Aku lelah!โ€

Dan aku akan berdalih, bahwa aku terlalu lelah. Pulang sekolah, pulang keluyuran, aku tak punya waktu. Tidak. Aku punya waktu untuk membaca tautan dari media sosial. Aku punya waktu untuk mengetik tweet. Aku punya waktu untuk melamun sampai ketawa atau menangis sendiri. Aku punya waktu untuk mabuk dan nongkrong. Aku punya waktu untuk bercinta. Aku harusnya punya waktu untuk membaca beberapa lembar sehari, sampai beres buku itu. Aku berdalih, dan semakin mudah perhatianku teralih.

Aku rindu membaca buku. Lalu menulis. Tidak membaca buku sampai selesai membawa petaka lain: aku tak bisa menulis dengan baik. Seperti tulisan ini. Ah, jangankan menulis yang baik. Mencari judul skripsi pun tidak kunjung ketemu. Padahal saya sudah semester sepuluh. Banyak mengulang kuliah. Harusnya saya lebih pintar ketimbang teman-teman saya, nyatanya saya barangkali yang paling dungu.

***
Dulu, sewaktu masih kecil, saya selalu sedih karena harus menunggu kakak-kakak saya selesai membaca majalah Bobo. Sebagai anak bungsu, saya selalu dapat jatah membaca terakhir. Kecuali kalau membaca majalah Intisari, karena uwa saya berlangganan dan saya bisa membaca edisi manapun sepuasnya, saya tidak begitu peduli edisi terbaru atau bukan. Tapi majalah Bobo, entahlah, saya selalu ingin segera membaca edisi terbaru.

Saya pernah menjadi pembaca yang amat rajin. Saya tidak bisa diam, tapi bisa anteng dengan buku di tangan, sebising apapun, seramai apapun. Saya mencintai buku-buku, sepertinya kasmaran terhadap buku mengalahkan kecintaan saya pada lelaki manapun. Saya bahkan seringkali mencintai lelaki yang saya anggap punya kemiripan dengan tokoh dalam cerita: baik novel, komik, cerpen, maupun puisi. Saya mudah cemburu pada siapapun yang saya kenal dan membaca lebih banyak daripada saya.

Saya juga pernah menjadi pembaca yang angkuh. Sedari kecil, saya tak suka membaca buku pelajaran sendiri. Pelajaran yang saya terima di kelas kan akan diberikan juga pada kelas yang lebih tinggi, dan karena itu saya selalu meganggap remeh buku pelajaran saya, dan membaca buku kakak saya, yang saya rasa membahas lebih lengkap pelajaran yang saya terima di kelas.

Dan saya punya kebiasaan buruk yang bertahan sampai sekarang: saya ingin tahu lebih. Lebih dari yang saya terima di kelas. Lebih dari yang ditawarkan buku-buku saya. Saya selalu berpaling pada yang lain. Saya tidak membaca buku pelajaran waktu SMA, menumpuk LKS, tidak mengerjakan tugas, dan sibuk membacai koleksi buku kakak saya, atau kabur ke perpus. Ketika kuliah di Psikologi, saya keranjingan buku filsafat, dan cultural studies. Pindah kuliah ke Antropologi, saya malah semakin yakin untuk membaca sastra.

Beginilah akibatnya: saya tidak kemana-mana. Susah lulus kuliah, susah jadi penyair, susah jadi kritikus, susah semuanya. Medioker sejati. Hanya karena saya tidak bisa menyelesaikan buku-buku saya dengan baik.

Saya tidak bisa menyelesaikan buku dengan baik, maka saya tidak bisa menulis dengan baik, maka saya tidak bisa tidur tenang, maka saya sakit-sakitan, maka saya tidak bisa banyak membantu orang lain, maka hidup saya susah sendiri…

Maka jangan seperti saya. Bacalah buku-buku itu, sebelum berantakan seperti saya.

Selamat Hari Buku Sedunia.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

5 Comments

  1. Baca dong mpe tamat…

    Reply
  2. Reblogged this on gleanings and commented:
    sepertinya… saya juga… ya, tepat begini.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: